Tips Memulai Jualan Online di GoFood, GrabFood, ShopeeFood untuk UMKM Pemula

Ketika pertama kali Martani Kuliner mencoba berjualan melalui aplikasi pesan-antar makanan, kami juga sempat berpikir sederhana: tinggal masukkan menu, tentukan harga, lalu tunggu pesanan masuk.

Ternyata tidak sesederhana itu.

Ada harga offline, harga online, biaya kemasan, komisi platform, promo, diskon, ongkos kirim, sampai berbagai program pemasaran yang ditawarkan oleh masing-masing aplikasi. Kalau semuanya tidak dihitung dari awal, bukan tidak mungkin pesanan ramai tetapi uang yang masuk justru terasa sedikit.

Tips Memulai Jualan Online di GoFood, GrabFood, ShopeeFood untuk UMKM Pemula

Pengalaman seperti inilah yang akhirnya membuat kami belajar sedikit demi sedikit mengenai cara menghitung harga jual online.

Bagi UMKM yang baru ingin mencoba jualan melalui GoFood, GrabFood, atau ShopeeFood, tulisan ini kami buat berdasarkan pengalaman Martani Kuliner sebagai usaha kuliner kecil. Jadi, ini bukan tulisan dari konsultan bisnis atau ahli marketplace. Kami hanya ingin berbagi hal-hal yang kami pelajari setelah menjalani sendiri prosesnya.

1. Jangan Langsung Menyamakan Harga Offline dan Harga Online

Kesalahan yang cukup mudah dilakukan ketika baru masuk ke aplikasi food delivery adalah menggunakan harga yang sama dengan harga di warung.

Misalnya, harga nasi di warung adalah Rp15.000. Kemudian kita masukkan ke aplikasi dengan harga Rp15.000 juga.

Sekilas memang terlihat lebih menarik bagi pelanggan.

Masalahnya, transaksi online biasanya memiliki biaya tambahan yang tidak muncul ketika pelanggan membeli langsung di warung. Salah satunya adalah komisi atau biaya layanan platform.

Sebagai contoh sederhana, kita gunakan asumsi komisi 25%.

Kalau sebuah menu dijual Rp15.000 di aplikasi:

Rp15.000 × 25% = Rp3.750

Artinya, secara sederhana hanya tersisa:

Rp15.000 - Rp3.750 = Rp11.250

Belum memperhitungkan promo yang mungkin ditanggung merchant, biaya kemasan tambahan, atau biaya lain yang berlaku sesuai program platform.

Itulah sebabnya harga online memang tidak selalu bisa disamakan dengan harga offline.

Setiap platform juga memiliki aturan dan skema biaya yang dapat berbeda. Bahkan, cara menghitung biaya ketika mengikuti promo juga tidak selalu sama.

Jadi, jangan menentukan harga online hanya dengan menambahkan angka asal-asalan dari harga offline.

2. Hitung HPP Terlebih Dahulu

Sebelum menentukan harga jual, kita harus tahu dulu berapa sebenarnya biaya untuk membuat satu produk.

Inilah yang biasa disebut HPP atau Harga Pokok Produksi.

Contohnya, kita membuat satu porsi nasi dengan perhitungan sederhana:

  • Beras: Rp3.000
  • Lauk: Rp5.000
  • Bumbu dan bahan tambahan: Rp1.500
  • Minyak dan bahan pendukung: Rp1.000
  • Kemasan: Rp1.500

Maka:

HPP = Rp3.000 + Rp5.000 + Rp1.500 + Rp1.000 + Rp1.500

HPP = Rp12.000

Angka Rp12.000 inilah yang harus kita jadikan dasar.

Perlu diperhatikan, HPP sebaiknya tidak hanya berisi bahan makanan. Untuk usaha kuliner, biaya seperti kemasan dan bahan pendukung juga perlu diperhitungkan agar kita tidak merasa mendapatkan keuntungan padahal sebenarnya hanya menutup sebagian biaya.

Di Martani Kuliner sendiri, kami menggunakan harga jual offline sebagai salah satu patokan penting dalam melihat apakah sebuah produk masih aman atau tidak ketika dijual secara online.

3. Tentukan Harga Offline sebagai Patokan

Setelah mengetahui HPP, kita bisa menentukan harga offline.

Misalnya HPP sebuah menu adalah Rp12.000 dan kita menjualnya secara offline Rp16.000.

Maka secara sederhana terdapat selisih:

Rp16.000 - Rp12.000 = Rp4.000

Rp4.000 ini bukan berarti seluruhnya otomatis menjadi keuntungan bersih karena dalam praktik masih ada biaya operasional lainnya. Tetapi setidaknya kita sudah mempunyai patokan harga jual langsung.

Kemudian muncul pertanyaan:

Kalau harga offline Rp16.000, berapa harga online-nya?

Nah, di sinilah perhitungan mulai penting.

4. Cara Menghitung Harga Online dengan Komisi 25%

Kita gunakan contoh sederhana.

  • Harga offline: Rp16.000
  • Asumsi komisi platform: 25%

Kalau kita ingin setelah dipotong komisi tetap menerima sekitar Rp16.000, maka tidak cukup hanya menambahkan 25%.

Cara menghitung harga online secara sederhana adalah:

Harga Online = Harga yang ingin diterima ÷ (1 - persentase komisi)

Jadi:

Rp16.000 ÷ (1 - 25%)

Rp16.000 ÷ 0,75 = Rp21.333

Harga online secara matematis sekitar Rp21.333.

Dalam praktik, tentu kita tidak akan memasang harga Rp21.333. Kita bisa membulatkannya, misalnya menjadi Rp21.500 atau Rp22.000, tergantung strategi harga dan kondisi produk.

Sebagai contoh jika harga online Rp22.000:

Komisi 25%:

Rp22.000 × 25% = Rp5.500

Sisa setelah komisi:

Rp22.000 - Rp5.500 = Rp16.500

Dengan demikian, secara sederhana uang yang tersisa setelah komisi masih mendekati atau sedikit di atas harga offline Rp16.000.

Tetapi sekali lagi, ini baru simulasi dasar. Perhitungan aktual setiap platform bisa mengikuti ketentuan biaya dan program yang sedang aktif.

5. Jangan Lupa Promo yang Ditanggung Merchant

Bagian ini yang menurut pengalaman kami paling sering membuat UMKM pemula bingung.

Misalnya harga online Rp40.000 dan kita membuat promo diskon 10%.

Diskonnya:

Rp40.000 × 10% = Rp4.000

Harga setelah diskon:

Rp40.000 - Rp4.000 = Rp36.000

Jika kita menggunakan contoh komisi 25% dan anggap komisi dihitung dari harga setelah diskon, maka:

Rp36.000 × 25% = Rp9.000

Dana yang tersisa:

Rp36.000 - Rp9.000 = Rp27.000

Padahal harga awal yang kita lihat adalah Rp40.000.

Inilah alasan mengapa sebelum membuat promo, kita perlu menghitung ulang berapa dana yang benar-benar masuk ke merchant.

Yang perlu diperhatikan, mekanisme komisi dan promo setiap platform dapat berbeda. Jadi contoh di atas adalah simulasi sederhana dengan asumsi komisi 25%, bukan rumus yang otomatis berlaku untuk setiap transaksi di semua platform.

6. Apakah UMKM Pemula Harus Ikut Promo?

Menurut pengalaman kami, promo memang bisa membantu mendapatkan pelanggan.

Tetapi promo juga tidak boleh dijadikan alasan untuk menjual produk di bawah kemampuan usaha.

Kalau baru mulai, kami lebih menyarankan untuk mencoba promo secara perlahan.

  • Tentukan menu yang marginnya cukup aman.
  • Gunakan minimum pembelian.
  • Batasi besarnya diskon.
  • Jangan semua menu dimasukkan ke promo.
  • Pantau uang bersih yang masuk setelah transaksi.
  • Bandingkan hasil sebelum dan sesudah promo.

Sebagai contoh, daripada memberikan diskon 20% untuk semua pesanan tanpa batas, kita bisa mencoba diskon nominal dengan minimum pembelian tertentu.

Misalnya:

Diskon Rp5.000 dengan minimum pembelian Rp50.000.

Dengan cara seperti ini, pelanggan didorong untuk membeli lebih banyak terlebih dahulu.

Untuk promo mandiri, hal terpenting bukan sekadar mendapatkan label "ikut promo", tetapi mengetahui berapa uang yang benar-benar masuk ke saldo setelah transaksi.

7. Jangan Terlalu Banyak Menu di Awal

Ketika pertama kali masuk ke platform online, rasanya ingin memasukkan semua menu yang kita jual.

Martani Kuliner juga mengalami hal seperti ini.

Namun setelah dijalani, kami menyadari bahwa terlalu banyak menu justru bisa membuat pelanggan bingung.

Lebih baik mulai dengan beberapa menu yang memang menjadi andalan.

Misalnya:

Menu Utama

  • Nasi Lengko
  • Nasi Mercon

Paket

  • Paket Berdua
  • Paket Bertiga
  • Paket Berempat

Tambahan

  • Mendoan
  • Lumpia
  • Telur
  • Kerupuk

Setelah mengetahui menu mana yang paling sering dipesan, kita bisa mengembangkan pilihan lainnya.

Dengan cara ini, kita juga lebih mudah menghitung HPP dan menentukan harga online masing-masing produk.

8. Foto dan Nama Menu Juga Penting

Jualan online bukan hanya soal harga.

Pelanggan tidak bisa melihat makanan secara langsung seperti ketika datang ke warung. Mereka hanya melihat foto, nama menu, deskripsi, harga, rating, dan informasi lainnya di aplikasi.

Karena itu, foto makanan sebaiknya dibuat semenarik mungkin tetapi tetap menggambarkan kondisi makanan sebenarnya. Cek Foto Makanan Martani Kuliner.

Nama menu juga jangan terlalu membingungkan.

Daripada hanya menulis:

"Paket A"

lebih baik:

"Paket Berdua – 2 Nasi Lengko + Lauk + Kerupuk"

Pelanggan langsung tahu apa yang mereka dapatkan.

Hal kecil seperti ini menurut kami cukup membantu ketika pelanggan sedang memilih makanan.

9. Jangan Panik Kalau Pesanan Belum Ramai

Ini mungkin bagian yang paling penting.

Ketika pertama kali membuka toko online, kita sering berharap pesanan langsung masuk banyak.

Kemudian satu jam tidak ada pesanan.

Besok masih sedikit.

Seminggu kemudian mulai bertanya-tanya, "Apa yang salah?"

Menurut pengalaman Martani Kuliner, membangun penjualan online memang membutuhkan proses.

Ada banyak faktor yang memengaruhi pesanan: harga, foto, rating, lokasi, jumlah pelanggan di sekitar, jam operasional, persaingan, promo, sampai seberapa sering toko terlihat oleh calon pelanggan.

Karena itu, jangan buru-buru menurunkan harga hanya karena pesanan sedang sepi.

Coba evaluasi satu per satu.

  • Apakah harga terlalu tinggi?
  • Apakah foto kurang menarik?
  • Apakah menu utama sudah jelas?
  • Apakah ada paket hemat?
  • Apakah jam buka sudah sesuai jam makan?
  • Apakah promo yang digunakan memang menghasilkan pesanan?

Dari situ kita bisa memperbaiki sedikit demi sedikit.

10. Catat Setiap Transaksi

Ini kebiasaan yang sangat kami rekomendasikan untuk UMKM pemula.

Jangan hanya melihat angka omzet.

Catat setidaknya:

Harga jual → diskon → promo → komisi → uang yang benar-benar masuk.

Misalnya:

Keterangan Nilai
Harga online Rp40.000
Diskon merchant -Rp4.000
Harga setelah diskon Rp36.000
Komisi 25% -Rp9.000
Dana masuk Rp27.000

Kemudian bandingkan dengan HPP.

Jika HPP Rp20.000, maka secara sederhana:

Rp27.000 - Rp20.000 = Rp7.000

Dari sini kita baru bisa melihat apakah transaksi tersebut masih cukup aman atau justru terlalu tipis.

Angka-angka seperti ini jauh lebih berguna daripada hanya melihat "hari ini omzet Rp500.000".

11. Martani Kuliner Juga Membuat Alat Hitung Sederhana

Karena kami sendiri sering membutuhkan perhitungan seperti ini, Martani Kuliner akhirnya membuat alat hitung sederhana untuk membantu memperkirakan harga jual online.

Bagi teman-teman UMKM yang ingin mencoba, bisa membuka:

Kalkulator Harga Online Martani Kuliner

Alat tersebut bisa digunakan sebagai bantuan awal untuk menghitung harga jual online berdasarkan harga offline dan komisi.

Tentu saja hasil kalkulator tetap perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing platform, karena aturan komisi dan promo dapat berubah.

12. Mulai dari Satu Platform atau Langsung Tiga?

Kalau kemampuan operasional masih terbatas, sebenarnya tidak masalah untuk memulai dari satu platform terlebih dahulu.

Pelajari cara kerja aplikasinya.

Pelajari cara menerima order.

Pelajari cara mengatur menu.

Pelajari laporan transaksi.

Pelajari promo.

Setelah sudah terbiasa, barulah menambahkan platform lain.

Tetapi kalau dapur dan operasional sudah siap, berada di beberapa platform sekaligus juga bisa menjadi cara untuk memperluas jangkauan pelanggan.

Martani Kuliner sendiri mencoba memanfaatkan beberapa platform seperti GoFood, GrabFood, dan ShopeeFood. Dari pengalaman tersebut, kami belajar bahwa masing-masing platform mempunyai karakter dan perhitungan yang berbeda.

Jadi jangan hanya menyalin harga dari satu aplikasi ke aplikasi lainnya tanpa menghitung ulang.

Penutup: Jualan Online Itu Bukan Sekadar Menaikkan Harga

Kalau ada satu hal yang paling kami pelajari selama menjalankan Martani Kuliner, mungkin jawabannya sederhana:

Jualan online harus dihitung.

Bukan berarti semuanya harus rumit.

Minimal kita tahu:

HPP → harga offline → harga online → komisi → promo → uang bersih yang masuk.

Dari sana baru kita bisa menentukan apakah harga kita sudah cukup aman.

Jangan sampai pelanggan mendapatkan harga murah, pesanan terlihat ramai, tetapi ketika uang masuk ternyata keuntungan sangat kecil atau bahkan minus.

Sebaliknya, jangan juga takut memasang harga online yang lebih tinggi daripada harga warung. Selama perbedaannya bisa dijelaskan oleh biaya platform, kemasan, promo, dan operasional, pelanggan yang memang membutuhkan layanan pesan-antar biasanya bisa memahami perbedaan tersebut.

Buat teman-teman UMKM yang baru ingin mencoba GoFood, GrabFood, atau ShopeeFood, tidak perlu langsung sempurna.

Mulai dari beberapa menu.

Hitung HPP.

Tentukan harga offline.

Hitung harga online.

Coba promo dengan hati-hati.

Catat hasilnya.

Kemudian evaluasi.

Itulah cara Martani Kuliner belajar jualan online sampai sekarang.

Dan kalau setelah membaca artikel ini masih ada yang belum jelas—misalnya bingung menghitung HPP, menentukan harga online, menghitung komisi 25%, atau ingin mencoba simulasi promo—silakan tanyakan di kolom komentar di bawah artikel ini.

Kami akan berusaha menjawab berdasarkan pengalaman yang kami jalani di Martani Kuliner.

Martani Kuliner
Martani Kuliner Memublikasikan konten seputar kulineran. Jual makanan produksi rumahan. Aneka resep masakan. Tempat kuliner. Informasi wisata kuliner hingga tips kuliner.
Diskon Makanan Online Martani Kuliner di GoFood GrabFood dan ShopeeFood